02.05.08
Membaca Sulit Sekali
Menghadapi kenyataan bahwa membaca bukanlah kegiatan yang menyenangkan bagi sebagian masyarakat Indonesia adalah menyedihkan. Seberapa sering kita temukan bacaan di tangan seseorang yang tengah duduk menunggu jemputan kendaraan ketika berangkat atau pulang dari kerja. Membaca dikalahkan popularitas games di telepon seluler.
Di kalangan orang-orang yang melibatkan dirinya di lingkungan akademis seperti siswa yang telah menjadi maha, kadang menempatkan membaca adalah aktivitas eksklusif orang-orang tertentu. Orang-orang yang pada masa ujian mereka dekati. Klub dan hentakan musik lebih menggoda dibandingkan barisan kalimat yang dapat menari-nari lebih lama bila mengendap di otak mereka.
Ternyata membaca memang susah.
Bukan karena buku yang susah didapat karena harganya yang mahal. Juga tidak karena perpustakaan yang tidak membuka pelayanan pada akhir pekan. Tapi karena bagi sebagian kita membaca punya definisi lain.
Membaca adalah sesuatu pekerjaan yang dilakukan jika anda ingin menulis skripsi. Seorang teman sepermainan akan mulai menulis skripsi pada semester ini. Seperti banyak mahasiswa yang lain, yang pertama kali ia pikirkan adalah judul skripsi bukan latar belakang masalah. Dengan alasan bahwa nama saya tidak tercantum sebagai dosen pembimbingnya, saya menyarankan untuk mencari inspirasi di ruang referensi perpustakaan kampus. Sebagai mahasiswa yang telah hampir empat tahun menginjakkan kaki dan menghirup udara kampus, ia bertanya dengan nada ingin tahu dimanakah pastinya letak ruang referensi itu kepada saya. Akhirnya dengan semangat pertemanan, saya menunjukkan letak ruang itu, sekalian syarat apa saja yang harus dilakukan agar bisa masuk ke ruangan itu.
Membaca adalah sesuatu pekerjaan yang melibatkan pemikiran yang keras. Seorang teman yang sangat saya hormati adalah pribadi yang menarik. Berpikiran luas dan tidak biasa. Ia selalu berpikir di luar kotak. Ia selalu meluangkan hampir sebagian uang dan waktunya untuk membaca dan menulis. Ia mempunyai koleksi buku yang anda pun sangat kagum bila melihatnya. Buku itu seperti anak sendiri baginya. Buku-buku itu bertema filsafat. Di suatu makan siang ia melihat saya membawa buku yang pada saat itu lagi in. Buku semacam itu sangat populer bahkan hingga sekarang. Saya memegang novel berjudul Kok Putusin Gue? Dengan pengarang Ninit Yuanita. Ia menghentikan makan siangnya sesaat dan melontarkan banyak pertanyaan tentang buku ini bagai saya tengah membaca buku bertema komunis di zaman orde baru. Di tengah pemikiran Habermas dan Derrida, novel yang saya pegang tidak mempunyai arti bagi dirinya. Dengan semangat pertemanan, saya menjawab pertanyaannya dan kembali meneruskan makan siang saya yang tertunda.
Membaca adalah sesuatu pekerjaan yang pantas dikagumi dan diberi pujian. Seorang teman yang berbagi atap dengan saya adalah mahasiswa yang hampir pasti akan bekerja di sebuah perusahaan asing. Pintar dan ambisius. Orang yang sangat praktikal. Menghabiskan waktu luangnya dengan bermain instrumen musik. Saya, temannya yang berbagi atap dengannya adalah mahasiswa yang hampir pasti berdesakan mencari pekerjaan sesaat setelah lulus. Bodoh dan naïf. Orang yang sangat tidak praktikal. Menghabiskan waktu luangnya dengan membaca beberapa buku. Saya tidak pernah mengagumi kemampuannya bermain instrumen karena bagi saya siapapun yang berlatih dengan tekun seperti dirinya, pasti bisa memainkan musik kurang lebih sama dengannya. Berkebalikan, ia selalu mengagumi kebiasaan saya membaca buku di waktu luang. Aktivitas yang tidak perlu latihan dengan tekun, bisa dilakukan setiap orang yang melek huruf dan dapat dilakukan dimana saja. Dengan semangat pertemanan, biasanya ia saya diamkan saja. Untuk kesekian kali, dalam hidup ini saya mengerutkan dahi. Saya tidak habis pikir.
Saya tidaklah orang yang mempunyai target membaca beberapa buku dalam satu bulan. Saya hanya menganggap membaca adalah sesuatu yang murah meriah. Murah karena apapun kapanpun dimanapun bisa dilakukan. Meriah karena akan mendapatkan banyak hal. Saya hanya menganggap membaca bukanlah aktivitas yang harus dipuji, karena ia seperti bernafas memerlukan udara, berpikir walaupun tidak keras memerlukan membaca. Ditambah dengan status yang sekarang, membaca adalah keniscayaan.
Kenapa susah sekali bagi kita untuk membaca?
zizah said,
February 9, 2008 at 4:04 am
Ayo…gerakkan Membaca Buku !!!setuju2:)