02.03.08

Maafkan Saya Yang Heran

Posted in Uncategorized at 7:50 am by steinhart

Pengalaman adalah apa yang oleh indera kita terima. Akumulasi dari pekerjaan indera itu tertumpuk di memori. Memori-memori itu membentuk pemahaman-pemahaman atas apa yang kita alami di hari kemudian. Pemahaman itu kadang kita gunakan sebagai kacamata untuk menilai sesuatu, apakah itu benar atau salah.

Sesuatu yang kira-kira di luar pemahaman kita adalah barangkali disebabkan indera kita belum pernah mengalaminya. Karenanya memori-memori tidak ikut terakumulasi. Juga ia tidak ikut serta dalam membentuk sebuah pemahaman. Ada dua kemungkinan untuk ini, kita yang hanya berkutat di lingkungan yang sedemikian sempit atau dunia ini terlalu luas untuk dimengerti.

Kedengarannya sangat membosankan. Tapi saya hanya ingin membagi sesuatu yang sederhana.

Seorang muslimah berjubah dan berjilbab panjang.

Saya sebagai pribadi menghormati seorang muslimah seperti ini, karena pilihan dan keteguhannya. Sekarang saya akan mencoba untuk memanggil memori-memori saya tentang muslimah-muslimah ini yang pada akhirnya pada suatu saat membuat saya sedikit heran.

Bagian ingatan-ingatan yang paling menonjol adalah mereka merupakan pribadi yang berprinsip dan idealis. Mereka adalah sosok yang kritis terhadap apa yang mereka anggap sebuah kemungkaran. Mereka membenci ketidakadilan yang ditimbulkan dari ketimpangan sosial dan politik. Mereka selalu merasa ada yang salah dengan dunia ini, sesuatu yang berasal dari kekuatan yang semena-mena menindas saudara-saudara mereka di negeri ini atau belahan dunia lain. Sebagai konsekuensi, mereka menganggap kotor segala sesuatu yang berasal dari kekuatan yang semena-mena itu. Dengan kekuatan yang besar ini, mereka tidak gentar menyampaikannya dengan lantang, Mereka yang saya temui di banyak sisi di tempat saya menuntut ilmu. Juga yang sering saya temui berteriak seraya menggunakan ikat kepala mengangkat sebelah tangannya ke langit di tempat publik kota ini saat saya kebetulan melintas. Mereka yang terkadang mengisi slot berita headline news di sebuah televisi swasta. Mereka yang teguh memegang prinsip. Salah satunya kakak sepupu saya yang bersikeras memisahkan tamu pria dan wanita di resepsi pernikahannya karena alasan tidak sejalan dengan ajaran mulia agama. Tidak sekedar berprinsip, mereka adalah manusia-manusia yang taat beragama. Agama, yang bagi mereka menarik jelas garis lurus pemisah antara kemungkaran dan kebenaran.

Kadang saya sejalan dengan pemahaman mereka. Tetapi saya tidak mungkin masuk dalam lingkaran mereka. Mereka seolah-olah mempunyai dunia sendiri yang membuat saya menundukkan kepala karena merasa tidak pantas masuk ke dunia itu. Saya yang masih kadang bercengkerama dengan hal-hal yang berasal dari kekuatan semena-semena itu. Sialnya, saya sering menikmatinya.

Jika saya kadang sejalan dengan pemikiran mereka, lantas apa yang membuat saya heran? Hal ini terjadi beberapa bulan yang lalu.

Beberapa bulan yang lalu adalah ketika liburan lebaran telah usai. Saya berada di sebuah bandara sebuah kota yang merupakan salah satu penghasil minyak terbaik di negeri ini. Kota yang menerima baik banyak perusahan asing tapi tidak cukup pintar menghadapi kesenjangan yang terbuka lebar diantara rakyatnya sendiri. Kesenjangan yang tidak diinginkan muslimah-muslimah itu. Kota yang tiap kali menginjakkan kaki membuat perasaan saya terbelah antara bangga dan malu. Di tengah bergulat dengan pemikiran sendiri, saya melihat satu dari muslimah itu. Anggun dengan jubah putih dan jilbab panjang birunya. Ia tengah asyik mengobrol dengan seorang asing yang dari tanda pengenalnya saya ketahui adalah seorang manajer dari perusahaan yang telah puluhan tahun menancapkan taringnya di kota ini. Tidak ada yang aneh dengan hal ini. Saya juga tidak perlu heran dengan dua orang yang saling bercakap dengan akrab.

Titik keheranan saya dimulai ketika mata saya tertumbuk pada tanda pengenal yang muslimah itu pakai. Ia ternyata adalah karyawan yang sedang melakukan pelatihan untuk perusahaan yang sama dengan orang asing itu. Dari memori-memori saya, sungguh saya sulit untuk mengerti. Karena bagi saya apa yang ia kenakan tidak sekedar pakaian. Pakaian itu telah menjadi semacam simbol perlawanan. Ah mungkin memang disini kesalahan saya, saya telah menjadikan pakaian sebagai sebuah simbol. Maafkan saya jika salah, tapi hanya kesan itu yang pertama kali saya pikirkan saat melihat muslimah itu. Saya meminta maaf karena tidak mengenal muslimah itu. Mungkin ini berlebihan, tetapi ini seperti saat saya mengetahui seorang anggota kelompok nasyid di sekolah saya berpacaran. Ada nilai-nilai yang saling bertabrakan disana.

Ada dua kemungkinan yang terjadi ketika saya heran, saya yang hanya berkutat di lingkungan yang sedemikian sempit atau dunia ini terlalu luas untuk dimengerti.

Leave a Comment