01.30.08
Aman Tanpa Tukang Parkir
Beberapa hari belakangan saya menyadari dua hal penting, bahwa materi kadang bukanlah segalanya dan satpam parkir bisa menjadi profesi yang sangat menyebalkan.
Setuju? Untuk yang pertama mungkin bagi orang yang penuh kekurangan seperti saya adalah sangat tidak setuju. Untuk yang kedua, mungkin juga tidak, kasihan para tukang parkir menurut pikiran anda. Tapi izinkan saya untuk meyakinkan anda sekalian.
Saya menyadari kedua hal itu ketika bersantai di kamar akhir pekan kemarin. Kesadaran saya berawal dari pengalaman orang lain, bukan dari saya sendiri. Pengalaman yang sungguh berharga untuk diri saya. Pengalaman rekaan. Pengalaman yang disadur ke dua buah film yang menarik.
Sebagai seseorang yang masih menjadikan Indomie sebagai pelarian makanan pokok jika akhir bulan tiba dan orang yang sangat marah dengan kenaikan harga kedelai karena gorengan adalah snack sore yang lezat, tentu dalam beberapa saat menganggap bahwa mempunyai kelebihan harta dan kartu kredit yang tidak ada batasan adalah surga dunia. Rela melakukan apa saja untuk mengalami kehidupan seperti itu. Begitulah yang dilakukan Brad Sexton (Tim Allen). Seorang pengusaha real estate yang mempunyai karir di atas puncak dan kehidupan keluarga bahagia dengan Istrinya, Caroline Sexton (Kirstie Alley). Tapi tidak ada yang tahu bahwa mereka tidak hidup seindah dalam mimpi. Brad mempunyai bawahan yang berbuat curang dengan memalsukan nama Brad di laporan keuangan perusahan kepada petugas pajak dan Caroline yang menuntut cerai karena sepuluh tahun menikah baru menyadari bahwa keputusan menikah adalah mungkin hal paling bodoh yang pernah dilakukannya. Singkat cerita, melalui pengalaman yang konyol dan berkat ide Brad yang “gemilang” akhirnya mereka terdampar di sebuah perkampungan Amish. Amish atau Amish Mennonite adalah satu dari denominasi Kristen yang mempunyai tradisi kuat berakar ke abad 17. Sedemikian kuat, hanya sebagian dari Amish yang menerima peradaban modern seperti listrik dan mobil. Pakaian sederhana buatan sendiri dan hidup bersandar dari hasil pertanian. Bayangkan, keluarga Sexton yang terbiasa hidup mewah karena ide Brad untuk melarikan diri sementara dari petugas pajak harus berpura-pura menjadi salah satu sepupu dari penduduk Amish demi mendapat tempat tinggal sementara. Amish adalah komunitas yang sangat mandiri dari pemerintah dan tidak membayar pajak, karenanya menjadi tempat yang tepat untuk melarikan diri. Mulai dari bangun di subuh buta karena harus bekerja sebelum sarapan, berbagi toilet karena tempat itu adalah kepentingan publik sampai harus menjinakkan kuda Swedia yang tak ketulungan besarnya untuk dipergunakan membajak tanah pertanian. Hal-hal yang jauh dari kepentingan materi, persaudaraan yang erat antar komunitas dan ketulusan untuk saling berbagi mengingatkan mereka akan perasaan yang dahulu menyatukan mereka pertama kali di altar pernikahan.
Film ini adalah drama komedi. Judulnya seperti sumpah pernikahan, For Richer or Poorer. Produksi tahun 1997. Sutradara Bryan Spicer.
Tentang satpam parkir yang menyebalkan itu sebenarnya sudah saya tunggu kehadirannya sejak beberapa minggu yang lalu. Bukan karena saya mempunyai dendam kepada tukang atau satpam parkir karena kadang saya juga tidak enak sendiri dengan jarangnya saya membawa receh pada saat saya harus membayar parkir. Bukan juga bercita-cita untuk menjadi satpam parkir, sudah tentu itu adalah profesi yang sangat membosankan, saya harap anda setuju dengan pandangan yang ini. Tapi adalah karena sebuah nama Alexander Aja. Ia adalah sutradara sebuah film thriller favorit saya, film Prancis, High Tension atau versi prancisnya Haute Tension. Tidak setegang film jenius Saw tapi jelas lebih sangat amat pantas dinikmati daripada sekedar menunggu kehadiran Hostel II. Hanya Tuhan yang tahu betapa kecewanya saya dengan film sekuel itu. Aja tidak menjadi sutradara di film satpam parkir ini, tetapi sebagai penulis naskah. Tetap nama Aja adalah faktor utama yang membuat saya menanti dengan setia film ini.
Angela (Rachel Nichols) adalah seorang karyawan yang tekun dan rajin, mungkin ia ingin segera mendapat promosi kenaikan jabatan. Buktinya adalah di malam liburan natal, ia tetap sampai larut mengerjakan laporan padahal sudah ditelpon bolak-balik oleh keluarganya untuk pulang karena hal yang lebih penting dari sekedar kumpul-kumpul keluarga. Soalnya ia yang membawa kostum santa klaus. Bagaimana natal tanpa santa? Bagai sayur tanpa garam. Jadilah ia orang terakhir yang pulang dari gedung kantornya, padahal satpam gedung yang menjaga pintu pun sudah pulang dan meninggalkan pintu gerbang dalam keadaan terkunci rapat. Tapi sebelum ia menyadari itu, ia turun ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya yang ternyata rusak. Dengan kesal ia menghampiri satpam parkir untuk membukakan pintu ke elevator karena agar tidak terlambat sampai rumah ia memutuskan untuk menggunakan taksi saja. Berjumpalah ia dengan tukang parkir yang bernama Thomas (Wes Bentley) dan membuat saya berkesimpulan bahwa satpam parkir bisa menjadi profesi yang sangat menyebalkan. Menyebalkan jika ditambah dengan kenyataan perkerjaan itu membosankan, diracik dengan bumbu pribadi yang kesepian dan obsesi cinta yang terpendam. Hasilnya adalah psikopat yang mengerikan. Setelah mengetahui bahwa pintu gerbang telah terkunci, Angela yang masih menenteng kostum santa klaus kembali lagi ke tempat parkir. Dimulai dari lampu tempat parkir yang tiba-tiba mati, ketegangan berlanjut dengan intensitas yang seperti di film High Tension. Tempat parkir yang luas namun gelap menjadi tempat yang pas untuk kejar-kejaran dan main kucing-kucingan. Dialog yang maju mundur tapi dingin tenang menusuk ala psikopat membuat penonton membenci tokoh itu sekaligus mencintai akting aktor yang sepertinya pernah berperan dalam film Ghost Rider. Adegan gory tidak terlalu banyak tetapi dibuat dengan proporsi yang cukup. Tokoh utama akhirnya mengucapkan selamat natal kepada psikopat, tetapi apakah ia menyampaikannya dengan akhir yang bahagia atau dalam keadaan sakaratul maut adalah tugas anda untuk menjawabnya. Saya kan tidak lagi mendongeng.

Film satpam parkir itu berjudul P2. Arahan sutradara Frank Khalfoun. Di tempat saya tinggal baru ada copy DVD. Itulah sebabnya saya kadang menganggap harta adalah segalanya, karena jika saya punya uang yang melimpah tentu saya akan hadir dalam premiernya di Amerika sana.
kolor-bolong said,
January 31, 2008 at 10:07 am
Film oke tuw bro… sip deh resensi filmnya….
noer said,
February 2, 2008 at 4:55 am
Waduw mas… tali otak ku agak kendor. Jadi gak tau maksudnya.
Aku baca 3 kali kok gak ngarti yah maksudnya? Yang aku tau, film yang paling bagus tuh 50 First Date (Drew Barrymore & Adam Sandler), Sayekti & Hanafi. ‘Benernya mas bisa jadi penulis handal lo… Gimana? Udah ada niat dan kbranian? Berani laaah … gitu aja kok … enteng kan? Kalo udah cukup umr, knapa gak? Salam
Somet said,
February 2, 2008 at 11:38 pm
Yah….Film yg bagusszzzz!!!!
n_n