01.26.08
I’m Sorry, Goodbye!
Peribahasa terkenal, “Jangan kau bertanya apa yang telah negara berikan kepadamu, tapi bertanyalah apa yang telah kau berikan kepada negaramu” saya rasa tidak sepenuhnya benar. Saya mulai mencurigai oknum yang menjadikan peribahasa ini sebagai usaha untuk meningkatkan nasionalisme adalah orang yang telah nyaman duduk-santai-tidur-gajian karena duduk di pemerintahan. Jadi izinkanlah saya untuk mengomel sedikit. Anggap saya warga negara yang rewel. Selama mengomel tidak menjadi perkara pidana atau perdata.
Sekarang, apa yang diharapkan dari seorang penjual gorengan yang semakin kewalahan karena naiknya harga minyak makan dan hanya mendapat penghasilan Rp.30.000 perhari kepada negaranya?
Sekarang, apa yang diharapkan dari seorang pemilik usaha roti yang karena naiknya harga terigu dan harus memecat 9 dari 20 karyawannya kepada negaranya?
Sekarang, apa yang diharapkan dari seorang buruh pabrik yang telah tak digaji selama setahun kepada negaranya?
Saya tidak menyukai berita. Saya justru memilih membaca koran eceran pada sore hari karena harganya yang hanya seribu rupiah. Bukan saya malas, tetapi saya takut penyakit akut saya akan semakin menjadi. Penyakit itu adalah ketidakpercayaan pada pemerintah. Saya tidak ingin ini terjadi, tetapi tiap saya membaca barisan kalimat semakin hati saya diiris sembilu. Semenjak bisa menggunakan hak politik, saya selalu mengikuti hajatan besar yang dinamakan pemilu. Ikut mengantri dan keluar dengan salah satu jari yang telah dicelupkan ke dalam tinta. Sebagai rakyat biasa, adalah wajar jika berharap orang-orang pintar yang dipilih adalah mereka yang berhak dan mampu untuk mengemban amanah besar. Pernah tersirat keanehan tidak di benak anda ketika seseorang terpilih duduk di kursi yang nyaman itu merayakannya dengan meriah? Bagi saya aneh. Demi Sulaiman yang adil, amanah itu sangat berat. Membawa diri ini ke jalan yang benar saja sudah menguras tenaga, apalagi mengurus urusan hidup-mati-sejahtera-melaratnya orang banyak. Mungkin saya bermaksud sok moralis, tapi katakanlah hal yang benar walaupun itu pahit kan.
Sebagian orang mungkin mengatakan mudah bagi kita yang tidak duduk di pemerintahan untuk mengomel sampai berbusa. Tapi logikanya begini, bagaimana jika anda menitipkan barang hak milik bersama kepada orang yang anda percaya tetapi orang itu kemudian berkhianat? Membawa lari atau menghabiskan sendiri mungkin? Mengomel adalah hal yang anda lakukan setelah beristighfar, bagi yang taat agama. Tidak perlu dibikin daftar apa yang membuat rakyat Indonesia ini berhak marah dengan pemerintahnya. Tapi apa yang menjadi obsesi media akhir-akhir ini cukup beralasan untuk sebagian orang membenturkan kepala ke tembok. Hal itu adalah, ketua MUI mengeluarkan pendapat agar rakyat Indonesia memaafkan mantan presiden Soeharto. Untung tembok jauh dari kepala saya.
Apakah MUI itu termasuk orang yang duduk dalam pemerintahan saya tidak tahu. Kayaknya sih iya. Tapi ia independen. Sangat agamis sekali memang kalau tiap orang yang bertuhan dan berpedoman kepada kitab suci untuk slelau mengikuti teladan orang-orang suci terdahulu. Yesus bersabda serahkanlah pipimu yang kanan jika yang kiri ditampar. Muhammad mengunjungi seorang kafir yang sakit padahal ia selalu dilempari tai tiap melewati rumah si kafir itu. Siddharta Gautama dengan anggunnya mengatakan semoga setiap makhluk berbahagia. Pendapat ketua MUI sekalipun memang tidak mengikat sebagaimana prinsip Islam tapi tidakkah kau mengerti hai para pintar bahwa betapa besar wibawamu kepada rakyat. Kenapa hal ini harus dipikirkan oleh kalian. Membuat pendapat seperti ini hanya mengakibatkan timbulnya rasa kasihan yang begitu mendalam sehingga memaafkan berarti melupakan. Rasa kasihan adalah awal dari pengabaian dan melupakan adalah babak baru dari ketidakpedulian. Jika memaafkan adalah keharusan tiap individu umat beragama, biarkan itu menjadi urusan individu. Apa susahnya menerima kenyataan bahwa sebagian pemimpin mungkin memang dilahirkan untuk susah dimaafkan. Kekuasaan memang membikin sebagian orang menjadi gila. Siapa yang bisa memaafkan Hitler?
kolor-bolong said,
January 26, 2008 at 6:04 am
Yah…bukan endonesah kalo ndak begitu……hehehe….merdeka..!!!
Ani said,
January 26, 2008 at 6:16 am
Judulnya kok kayak lagunya Krisdayanti saja
Lha iyalah, wong tukang gorengan mikir untuk ngidupin diri sendiri dan keluarga saja susah kok mau mikirin negara segala!
Hari gini, orang masih banyak yang berjuang untuk hidupnya sendiri, mana sempat sih mikirin negara. Sudah bisa jadi warga negara yang baik, nggak pernah lupa bayar pajak (walau entah ke mana larinya uang itu), sudah bagus to.
*halah, sorry kalau nggak nyambung sama postinganmu*
Eucalyptus said,
January 26, 2008 at 8:06 am
Hai, makasih dah mampir di blog-ku…. sori neh komen disini, abis gak ada SB-nya seih
IK said,
January 26, 2008 at 8:26 am
kalo aku jadi bertanya dalam diriku sendiri… apa betul aku masih punya negara…?
Saif said,
January 26, 2008 at 11:22 am
Orang baik selalu bisa memposisikan dirinya di tempat yang tepat. Bagi Pak Harto dan keluarganya sebaiknya dan seharusnya meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia yang merasa dirugikan dan didhalimi, sembil mengembalikan hak-hak rakyat atau negara yang selama ini sudah terambil dan memang bukan haknya.
Bagi kita, seharusnya membuka hati untuk memaafkan beliau dan keluarganya yang telah bertaubat kepada Allah dan mengembalikan semua hak rakyat & memohon maaf kepada mereka