01.23.08

Seperduapuluh Agama

Posted in Uncategorized at 3:30 pm by steinhart

Beberapa rekan telah menikah di usia mereka yang menurut penilaian saya masih sangat muda. Bahagia saya pada mereka. Saya kemudian melihat kepada diri saya sendiri dan mulai menganalisa. Pertanyaan yang muncul pertama kali adalah kalau mereka sudah berani untuk memutuskan menikah kenapa keinginan untuk melakukan hal yang sama belum muncul sama sekali di pikiran dan hati saya? Saya mulai curiga adakah yang salah dengan perkembangan hormon atau psikologis saya? Ditambah lagi, salah satu rekan yang telah menikah itu mengatakan kalau sebenarnya apapun alasan bagi saya untuk belum menikah itu adalah ilusi, yang ada adalah masalahnya ada dalam diri saya sendiri. Ditambah lagi dengan doktrin agama yang mengatakan jika menikah adalah menyempurnakan setengah dari agama, jadi selama ini saya hanya menjalankan agama setengahnya saja. Padahal sholat wajib saja masih terkadang iya-tidak-iya-tidak ditambah ibadah-ibadah yang lainnya jarang dilakukan. Jika begitu, paling baik mungkin saya masih menjalankan agama saya seperduapuluh-nya saja.

Saya memang terkadang orang yang paranoid, jika dituduh sesuatu yang belum tentu benar maka akan terus berpikir tentang itu sampai menemukan jawaban atau pembenaran yang cukup. Didorong dari ketidakpercayaan bahwa masa sih saya hanya menjalankan seperduapuluh dari agama saja, dan juga termotivasi untuk memberikan pembenaran yang tepat untuk belum menikah, mulailah saya membuka kitab suci yang telah sedikit berdebu karena ya tau sendirilah alasannya. Saya membuka dari belakang karena alasan surat-surat yang masih terhitung pendek. Setelah beberapa halaman, bukan tambah terhibur saya malah semakin merasa sedih. Belum hilang perasaan saya yang hanya menjalankan agama seperduapuluh saja, lebih parah saya dengan penuh kesadaran diri mengakui tuduhan yang lebih ganas lagi yaitu sebagai pengkhianat agama.

Bagi yang hafal surat Al-Ma’un coba dibuka terjemahannya, terasa semuanya mengarah kepada saya. Beberapa waktu saya mengenyahkan pandangan dan pura-pura tidak tahu ketika anak yatim meminta sumbangan dan beberapa kali pula saya pulang makan siang dengan perut kenyang hati riang dengan melewati gelandangan yang kelaparan. Tak terhitung sholat saya yang kelihatan sangat tidak menarik daripada kelayapan tidak jelas. Juga secara sadar dan tidak sadar melakukan sesuatu yang baik karena ingin dilihat dan disanjung. Oh tidak. Saya tutup kitab suci itu dan menaruhnya kembali serta tidak lupa membersihkannya, walaupun mungkin debu akan menghampirinya lagi dengan segera. Begitu banyak hal yang harus saya perbaiki di dalam diri saya sendiri dan tidak akan banyak gunanya juga jika hal itu saya mulai dengan membandingkannya dengan apa yang telah orang lain jalani untuk hidup mereka sendiri. Bahagia saya buat mereka.

Orang bijak bilang bahwa belajar saat usia muda seperti mengukir tulisan di batu sehingga tak mudah hilang. Menikah di usia muda semoga menjadi ajang pembelajaran yang mumpuni untuk membentuk pribadi yang tidak mudah hilang di makan masanya. Tetapi memang bagi sebagian orang tidak mudah untuk memutuskan, terlebih bagi mereka yang punya kecenderungan paranoid berlebihan seperti saya. Mungkin rekan saya memang benar, masalahnya adalah diri saya sendiri. Alih-alih menjalankan keseluruhan agama, saya masih terhitung sebagai pengkhianat agama. Itu pun bukan gelar yang baik pula untuk orang yang sudah, akan atau belum menikah. Jika bertemu dengan mereka lagi, saya akhirnya kembali harus menjadikan waktu sebagai tameng. Belum waktunya saja.  

3 Comments »

  1. Fakhrurrozy said,

    Mansia tidak akan terjaga dari khilaf dan dosa. Itu menunjukkan bahwa manusia itu lemah dan tak sempurna. Dan sungguh, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Namun berbahagialah, jika diri masih diberi kesadaran dan kesempatan untuk memperbaiki diri, terlebih menyadari bahwa apapun ketetapan Allah SWT saat ini kepada diri kita, adalah yang terbaik menurut-Nya. Namun kebahagiaan akan jauh, jika kita malah berpaling dari-Nya serta cenderung berburuk sangka kepada-Nya dan sesama makhluk-Nya. Ini tidak mudah dan mesti dengan usaha yang istiqomah…Insya Allah :)

    Mohon maaf, sekedar sharing pendapat. Smoga berkenan dan salam kenal dari saya :)

    Wassalamu’alaikum

  2. noer said,

    Mas…makasih dah mampir ngopi ke blog saya. Maaf, kopinya agak pahit :D . Masalah keberanian untuk mengabil keputusan menikah memang dari “diri” sendiri. Kalo bukan nanti hasilnya ndak baik. Saya ada sedikit kata2 yg mungkin bermanfaat.
    “Menikah itu bukan sesuatu yang menakutkan. Tapi menyenangkan dan membahagiakan. Apa yang membuat mas takut tidak akan terjadi setelah menikah. Memang ada sedikit masalah setelah menikah. Mungkin masih adaptasi 2 sifat yg beda. Dan Mas ndak perlu takut karena semua masalah bisa diatasi kalo kita bepikir jernih dan permohonan penyelesaian masalah kita pasrahkan kepada Allah Yang Maha Tahu segala penyelesaiannya. Jadi itu bukan hal yg menakutkan. Malah menyenangkan. Kita bisa lebih mengenal lebih jauh pasangan kita. Menarik sekali seandainya kita bisa mengetahui luar dalam seseorang yang kita cintai. Kita bisa merasakan apa yang dipikirkan oleh pasangan kita. Cobalah untuk berandai-andai mempunyai pasangan hidup. Berandai-andai mempunyai bayi yang mungil.
    Semoga ini bisa membantu. Dan Jangan lupa. Ada Allah Yang Maha KUasa yang bisa kita mintai pertolongan.
    Wassalam

  3. akur said,

    mg cepet dapet jodohnya ya…
    niat seorang muslim lebih baik daripada amalnya
    tapi amalnya lebih akanbaik lagi dikerjakan
    semoga Allah memberi hidayahnya pada kita
    dan semoga kita berusaha mencari hidayahNya


Leave a Comment